Asyik Gak Sih, Kerja di Startup? Ini Realita dan Soft Skill yang Harus Dipersiapkan

Kamu ingin bekerja di startup? Atau saat ini sedang membangun startup?

Dewasa ini, bekerja di perusahaan startup memang bisa dibilang sedang menjadi tren baru, terutama bagi generasi milenial. Sepertinya sangat menyenangkan bisa ngantor pakai kaos dan juga laptop-an duduk di beanbag. 

Well, bekerja di lingkungan startup memang identik dengan suasana kerja yang kasual, jam kerja yang lebih fleksibel, desain kantor yang fun, dan ruang meeting yang beralaskan karpet rumput sintetis. 

Namun, sebelum kamu berekspektasi lebih jauh, ada baiknya kita tahu beberapa fakta dan kemampuan yang harus dibutuhkan jika ingin bekerja di startup. Cek artikel berikut ini, ya.

Realita #1: kerja di startup punya banyak tantangan

Namanya saja startup atau ‘perusahaan rintisan’, tidak heran jika sistem kerjanya sedang dibangun dan belum stabil. Maka akan ada banyak tantangan dari segi pekerjaan yang harus bisa diatasi. Dengan tantangan pekerjaan, kamu juga sangat bisa memberikan masukan terkait ide-ide yang kamu miliki. Jadi, jangan ragu untuk berpendapat dan menuangkan ide karena kontribusi yang kamu berikan akan sangat berpengaruh pada kemajuan perusahaan. 

Realita #2: kerja di startup harus bisa beradaptasi dengan cepat

Startup ibarat remaja yang sedang dalam proses pertumbuhan menuju dewasa. Layaknya remaja yang tumbuh, tentu akan banyak mengalami perubahan dari segi fisik, mental, pola pikir, dan banyak hal lainnya. Begitu pula jika kamu sudah ada di lingkungan startup, perubahan sangat mungkin terjadi setiap saat karena daya saing yang tinggi. Misalnya, regulasi perusahaan yang berganti, terjadinya restrukturisasi dalam manajemen, atau bahkan job description yang mendadak mengalami perubahan. Memang pada awalnya akan terasa sulit karena perubahan ini. Namun jangan khawatir, jika kamu terus belajar, maka lambat laun perubahan yang terjadi justru bisa mengasah skill adaptasi serta meningkatkan kompetensi yang kamu miliki. 

Realita #3: dunia startup adalah kombinasi antara bekerja dan belajar banyak hal secara bersamaan

Fakta di atas memang terdengar klise. Namun, memang begitulah realita yang terjadi. Senang belajar banyak hal dan punya rasa keingintahuan yang tinggi bisa jadi nilai tambah untukmu yang ingin terjun ke dalam industri startup dan teknologi. Berusahalah untuk banyak belajar dari atasan, rekan tim, dan juga belajar secara mandiri. Tidak masalah untuk melakukan trial and error serta bereksperimen. 

Realita #4: lingkungan kerja yang inklusif dan horizontal

Perubahan yang kerap terjadi di startup menuntut tim untuk bisa mengambil keputusan dengan cepat. Efek dari hal ini adalah startup pada umumnya punya struktur organisasi yang tidak terlalu kompleks. Dengan ini, kamu bisa berinteraksi dan meminta masukan secara langsung kepada atasan. Manfaatkan juga kolaborasi yang bisa kamu bangun dengan tim lain dari lintas divisi. 

Jadi, apakah kamu sudah siap buat bergabung di startup?

Cara Mudah Adaptasi Seru di Lingkungan Baru

Tidak semua orang bisa langsung akrab saat melakukan adaptasi di lingkungan baru. Momen seperti lulus sekolah, masuk kuliah hari pertama, melakukan project di daerah baru, hingga saat traveling, membutuhkan beberapa perhatian khusus agar bisa beradaptasi.

Ibarat gelas kosong, kamu harus siap menampung segala hal saat ada di tempat baru. Entah itu perkenalan, kebiasaan baru, bahkan nama tempat dan jalan yang mungkin sama sekali belum pernah kamu susuri. 

Lalu, bagaimana cara agar adaptasi di lingkungan baru bisa menjadi sebuah kegiatan yang seru?

Kamu bisa mencoba cara-cara di bawah ini:

Cermat melihat sekeliling

Ini adalah poin pertama yang bisa kamu coba dengan mengamati sekelilingmu. Melakukan observasi bisa menjadi momen yang tidak terlupakan jika kamu tahu caranya berkenalan. Jangan lupa bahwa kesan pertama saat pertemuan itu penting, jadi bersikap sopan dan ramah tentu akan sangat membantu. Tips yang akan membantumu saat observasi adalah libatkan semua indera yang kamu miliki, mulai dari penglihatan dengan mengamati hal-hal baru di lingkungan, hingga indera pengecap dengan mencoba ragam kuliner khas daerah setempat. 

Saling menghargai

Rasa tidak nyaman yang muncul bisa menjadi pemicu untuk enggan mengenal lingkungan baru. Lalu, mengapa bisa timbul rasa tidak nyaman?

Ini karena tata cara, budaya, kebiasaan, hingga adat yang kamu pegang, bisa jadi sangat berbeda dengan tempat tinggalmu saat ini. Untuk itulah diperlukan sikap saling menghargai. Dengan ini, kamu bisa melatih empati serta menambah wawasan akan hal-hal unik yang sama sekali belum pernah kamu temukan di lingkunganmu yang terdahulu. 

Bertemu dengan masyarakat setempat

Setiap daerah pasti punya orang yang dipercaya untuk menjadi pemimpin. Salah satu cara agar kamu bisa diterima di suatu kelompok adalah dengan mengenalkan diri kepada pemimpin daerah setempat dan menciptakan kesan yang baik. Interaksi dengan masyarakat jadi hal yang penting dalam proses adaptasi. Jangan ragu dan hilangkan rasa malu untuk bergaul dengan mereka. Kamu juga dapat bertanya banyak hal, lho. Tips mudah untuk bisa semakin dekat dengan masyarakat adalah perbesar rasa keingintahuanmu untuk bisa mengenal daerah yang kamu tempati. Serta jangan lupa untuk selalu mematuhi adat istiadatnya, ya. 

Itu beberapa cara penting yang bisa kamu lakukan saat sedang beradaptasi di tempat baru. Semoga adaptasimu menyenangkan dan selamat mencoba, ya!

Workshop Persiapan Riset Lapangan

Selama 5 hari di Jakarta, 18 startup dan komunitas #PenyebarKebajikan terpilih diberikan materi untuk menyiapkan mereka sebelum berangkat Riset Lapangan ke daerah 3T tujuan mereka.

Adapun materi yang diberikan adalah: Grant Compliance, Design Thinking, Objective and Key Result, Participatory Action Research, dan Cultural Orientation Training.

Berikut adalah nama-nama tim #PenyebarKebajikan Dayamaya batch 1: Akupintar, ANDIL, Atourin, Bantuternak. Berkahbarang.id, Binar Academy, Cakap, DycodeX, i-Tallenta, Jahitin.com, Kalikesia, Ladang.id, LindungiHutan, Ngalup Coworking Space, Pijar, Sampang Go Online, Smart Solution, dan Tapakita.

“Dengan internet, semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam memajukan kesejahteraannya. Visi BAKTI adalah membangun ekosistem bagi masyarakat dan pemerintah di daerah 3T agar bisa menggunakan internet untuk memajukan perekonomian.” – Danny Januar Ismawan, Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi untuk Masyarakat dan Pemerintah, @baktikominfo

“Orang baik itu banyak. Mereka butuh ruang untuk bersinergi dengan orang baik lainnya. BAKTI ingin memfasilitasi itu melalui Dayamaya. Kalian, 18 tim startup & komunitas #PenyebarKebajikan terpilih, diharapkan bisa memantik sinergi dengan stakeholder di daerah 3T yang kalian datangi nanti.”Ari Wahyuniarti, Kepala Divisi Layanan Telekomunikasi dan Informasi untuk Masyarakat, @baktikominfo

Inilah 55 Peserta Program Dayamaya Yang Lolos Tahapan Seleksi Administrasi

Jakarta, 5 Oktober 2019 – Dari 1.019 pendaftar dari 34 provinsi se-Indonesia pada program Dayamaya, telah terpilih 55 pendaftar yang lolos untuk maju ke tahapan seleksi wawancara oleh tim seleksi. Adapun, tim seleksi terdiri atas perwakilan BAKTI, serta expert yang menjadi bagian dari tim kurasi yaitu terdiri dari perwakilan Asosiasi Fintech Indonesia, Asosiasi E-commerce Indonesia, akademisi, pemerintahan, venture capital dan startup unicorn.

Dayamaya merupakan program yang diinisiasi dengan visi mendukung pengembangan ekosistem ekonomi digital Indonesia terutama di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) bagi kesejahteraan masyarakat, dengan semangat gotong royong bersama para stakeholder strategis, seperti startup, serta Usaha Menengah Kecil, dan Mikro (UMKM) digital. Selain itu, program Dayamaya juga dimaksudkan untuk menjalankan amanah Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Roadmap e-Commerce) Tahun 2017-2019. 

“Membangun infrastruktur telekomunikasi untuk masyarakat dengan internet adalah satu hal, hal selanjutnya yang terpenting adalah mendorong penggunaan internet untuk hal-hal positif. Jangan sampai adanya internet malah membuat kemunduran,” ujar Anang Latif, Direktur Utama BAKTI Kominfo.

Pengembangan ekosistem perlu dilakukan oleh BAKTI guna mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur TIK yang sudah tersedia, serta menciptakan permintaan dan peminatan terhadap infrastruktur TIK (demand creation). Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan sektor pendidikan, kesehatan, pariwisata, agribisnis (pertanian dan kelautan), logistik, fintech, dan e-commerce yang mendorong peningkatan kualitas perekonomian di daerah.

“Visi kami adalah membangun ekosistem bagi masyarakat dan pemerintah di daerah 3T agar bisa menggunakan internet sebagai alat untuk memajukan sektor-sektor yang dapat menggerakkan perekonomian daerah,” ujar Danny Januar Ismawan, Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi untuk Masyarakat dan Pemerintah BAKTI Kominfo.

“Wilayah yang dilayani oleh BAKTI adalah desa-desa yang tidak feasible secara komersial sehingga operator telekomunikasi saja pun belum tentu hadir di sana 5 atau 10 tahun mendatang. Makanya, untuk mewujudkan ekosistem ekonomi digital itu, perlu ada program fasilitasi agar tumbuh elemen yang dapat melengkapi ekosistemnya, yaitu startup dan komunitas. Peran mereka adalah membuat inisiatif atau produk yang dapat merealisasikan potensi dan menjawab permasalahan masyarakat, secara berkelanjutan,” tambahnya.

Setelah lolos seleksi administrasi, Dayamaya akan melakukan seleksi interview pada tanggal 6-10 Oktober 2019 untuk memilih inovasi yang akan masuk ke tahap interview oleh tim kurasi. Setelah itu terpilih 30 inovasi yang akan diberikan fasilitas berupa barang/jasa senilai 100 hingga 300 juta rupiah. Fasilitas tersebut dapat digunakan untuk pengembangan SDM, eksekusi riset pasar, infrastruktur teknologi, hingga sosialisasi dan pemasaran. Nama-nama startup dan komunitas yang lolos tahap seleksi administrasi sebagai berikut:

  1. Aku Pintar
  2. Alumni ITB Jakarta
  3. AMAN Daerah Sumbawa
  4. ANDIL
  5. Arashi Digital Creative
  6. Atourin
  7. Bantuternak
  8. berkahbarang.id
  9. Bersamakami.com
  10. Binar Academy
  11. Bionika 
  12. Cakap
  13. Copa de Flores
  14. Danger App
  15. DESA Apps UGM
  16. Desa Digital (Dedi)
  17. DiDesa.ID
  18. DycodeX
  19. EMA ANA 
  20. Generasi Anak Negeri
  21. i-tallenta
  22. Jahitin.com
  23. Job2Go
  24. Kalikesia
  25. Kita Pelosok
  26. Krakakoa
  27. Ladang.id
  28. LindungiHutan
  29. Marimad
  30. Mata Desa
  31. Mbangundeso.com
  32. Misbar Cinema
  33. MYDIVE.ID
  34. Ngalup Coworking Space
  35. Pijar
  36. Podiestel
  37. PT. Inditek Global Medika
  38. PT. Kreasi Rekayasa Indonesia
  39. Puna Indonesia
  40. Qiwii.ID
  41. Sahabatcare
  42. Sampang Go Online
  43. saturnus.co.id
  44. Sekalawi
  45. SIDAS
  46. Smart Kandang
  47. Smart Solution
  48. Sukamaju Digital Indonesia
  49. Tani Jiwo Hostel
  50. Tapakita
  51. terAter
  52. Tripisia.id
  53. Visio Incubator
  54. Wonder Koding
  55. Wujudkan Indonesia

+1.000 Startup dan Komunitas Siap Bantu Daerah Tertinggal

Kini, telah ada lebih dari 1000 startup dan komunitas yang berasal dari 34 provinsi Indonesia yang mendaftar pada program Dayamaya. Program dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kominfo ini memberikan fasilitas barang dan jasa untuk membantu pengembangan inisiatif yang dapat menggerakkan perekonomian digital di daerah terdepan, terluar, tertinggal (3 T).

Dari 7 sektor fokus yang ada, pendidikan (26%), kesehatan (15%), dan agribisnis (15%) adalah sektor dengan jumlah pendaftar tertinggi. Nantinya, Dayamaya akan memilih 30 inisiatif yang akan diberikan fasilitas berupa barang/jasa senilai 100 hingga 300 juta rupiah. Fasilitas tersebut dapat digunakan untuk pengembangan SDM, eksekusi riset pasar, infrastruktur teknologi, hingga sosialisasi dan pemasaran.

“Fokus utama dari program ini adalah memastikan solusi yang dibuat oleh startup dan komunitas ini memang menjawab permasalahan nyata yang ada di masyarakat. Maka dari itu, Dayamaya akan memfasilitasi startup dan komunitas terpilih untuk melakukan riset lapangan langsung ke daerah 3T yang dituju,” ujar Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi untuk Masyarakat dan Pemerintah BAKTI Kominfo, Danny Januar Ismawan, di Jakarta, Sabtu (21/09/2019).

Sebelum riset lapangan, peserta diberikan workshop selama 5 hari untuk persiapan, yaitu Design Thinking, Cultural Orientation Training, Participatory Action Research Training, hingga Objective and Key Results (OKR) Training. Setelahnya, peserta akan mendapatkan mentoring dari praktisi dalam pengimplementasian fasilitas dan pengembangan inisiatif produk/jasa.

Pendaftaran program Dayamaya dilakukan secara online melalui portal penggerak.dayamaya.id dan ditutup pada 30 September 2019. Info selengkapnya silakan mengunjungi website dayamaya.id dan www.baktikominfo.id, email: [email protected] atau Instagram @dayamaya.id.

Menemukan “Ikigai”

Ikigai adalah kombinasi dari kata ikiru yang berarti “untuk hidup”, dan kai yang bermakna “realisasi harapan seseorang”. Jika disatukan, kedua kata itu membentuk konsep “alasan untuk hidup” atau “memiliki tujuan dalam hidup”.

Bagaimana caranya kita dapat menemukan Ikigai kita? Simak cerita mereka dalam video-video ini:

Membuat Presentasi yang Memenangkan Hati

Dalam memulai sebuah inisiatif, bisa itu sebuah bisnis atau proyek, diperlukan penggambaran yang jelas untuk visi dan hal-hal yang akan dilakukan untuk merealisasikan inisiatif tersebut.

Berikut adalah referensi bacaan untuk kamu dapat meningkatkan kemampuan dalam mengomunikasikan inisiatifmu:

Mengapa Membangun Branding Itu Penting?

Proses branding itu sendiri merupakan sebuah upaya untuk membentuk citra dan rasa keterikatan secara emosional antara pelanggan dengan merk produk serta perusahaannya dan juga upaya untuk membedakan diri dari pesaing. Upaya-upaya tersebut meliputi proses kreatif seperti pembuatan logo, penentuan slogan, mendefinisikan pesan yang hendak disampaikan, mengintegrasikan merk dengan kegiatan usaha, dan berbagai kegiatan kreatif lainnya yang bertujuan untuk membentuk persepsi pelanggan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap produk bermutu tinggi atau perusahaan yang bonafid selalu terkait dengan merk yang menarik, unik dan gampang untuk diingat. Dengan kata lain, kebanyakan bisnis-bisnis besar yang sukses berhasil menciptakan proses branding yang mampu menciptakan persepsi pada pelanggan untuk mengasosiasikan sebuah produk atau jasa tertentu terhadap sebuah merk.

Sumber: marketeers.com/mengapa-branding-penting-bagi-bisnis-anda/

Berikut adalah beberapa referensi bacaan untuk mempelajari tentang Branding lebih dalam:

Mengenal Participatory Action Research

PAR adalah kegiatan riset yang dilaksanakan secara partisipatif di antara masyarakat warga dalam suatu komunitas atau lingkup sosial yang lebih luas untuk mendorong terjadinya aksi-aksi transformatif (perubahan kondisi hidup yang lebih baik). Dengan demikian, sesuai istilahnya, PAR memiliki tiga pilar utama, yakni metodologi riset, dimensi aksi, dan dimensi partisipasi. Artinya, PAR dilaksanakan dengan mengacu metodologi riset tertentu, harus bertujuan untuk mendorong aksi transformatif, dan harus melibatkan sebanyak mungkin masyarakat warga atau anggota komunitas sebagai pelaksana PAR-nya sendiri.

Metodologi PAR sesungguhnya berasal dari kerangka metodologi riset-riset konvensional lain. Perbedaannya dari riset-riset konvensional adalah bahwa peneliti/praktisi PAR tidak memisahkan diri dari situasi masyarakat yang diteliti, melainkan melebur ke dalamnya dan bekerja bersama warga dalam melakukan PAR. PAR membahas kondisi masyarakat berdasarkan sistem makna yang berlaku di situ, bukan menurut disiplin ilmu tertentu di luar budaya masyarakat tersebut. PAR tak bisa lagi berposisi “bebas nilai” dan tidak memihak seperti yang dituntut ilmu pengetahuan sebagai syarat obyektivitas, melainkan harus memihak pada kelompok yang lemah, miskin, dirugikan, dan menjadi korban.

Selain itu, PAR tidak berhenti pada publikasi hasil riset (laporan) dan rekomendasi untuk riset berikutnya, melainkan berorientasi pada perubahan situasi, peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat warga untuk memahami dan mengubah situasi mereka menjadi lebih baik. Singkatnya, PAR sungguh-sungguh mengaktualisasikan kegiatan riset sebagai langkah mengambil bagian dalam proses penyadaran dan pemberdayaan masyarakat seperti yang diteladankan Paulo Freire dari Brasil sejak tahun 1960-an dan para pengikutnya yang terus berkembang dewasa ini.

Paradigma dan Pendekatan PAR

PAR lebih didasari paradigma fenomenologis, atau seringkali pula disebut paradigma interpretivisme, subyektifisme, atau definisi sosial. Paradigma ini didasari asumsi bahwa realitas sosial berlaku secara khas, subyektif dan kontekstual secara ruang dan waktu, sehingga peneliti perlu memahaminya dengan cara menginterpretasikan fenomena tersebut secara mendalam dalam konteksnya yang khas, tanpa perlu merisaukan representasinya atas fenomena lain yang sejenis, yang biasa dilakukan dengan analisis statistika sesuai paradigma fungsionalisme, obyektifisme atau fakta sosial (bdk. Sanapiah Faisal, “Filosofi dan Akar Tradisi Penelitian Kualitatif”, dalam Burhan Bungin, 2003:3-17.). Pendekatan ini dipilih karena situasi dan masalah yang diteliti bukan berujud sesuatu yang sangat terukur secara kuantitatif, melainkan situasi dan masalah yang masih sedang berkembang dan memiliki beragam aspek sosial.

Berdasar paradigma tersebut, pendekatan PAR sesungguhnya lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Namun, hal ini tidak menghalangi dimanfaatkan data-data yang bersifat kuantitatif dan metode-metode pengumpulan dan analisis data kuantitatif dalam PAR, dengan catatan kuantifikasi situasi sekadar sebagai alat bantu dan tidak boleh mereduksi fenomena sosial yang faktual terjadi dan dipahami melalui PAR itu sendiri.

Tujuan PAR

Setiap kegiatan PAR bertujuan :

  1. Untuk membangun kesadaran masyarakat atau memberdayakan masyarakat aras bawah melalui pendidikan kritis, pembelajaran orang dewasa, dialog public, dll
  2. Untuk merubah cara pandang tentang penelitian dengan menjadikan penelitian sebuah proses partisipasi
  3. Untuk menggeser padarigma: masyarakat sebagi Objek à Subjek penelitian
  4. Untuk membawa perubahan (transformation) nilai sosial di masyarakat

Prinsip-Prinsip PAR

1. Partisipasi. Prinsip ini mengharuskan PAR dilaksanakan separtisipatif mungkin, melibatkan siapa saja yang berkepentingan dengan situasi yang sedang diteliti dan perubahan kondisi yang lebih baik. Dengan prinsip ini, PAR dilakukan bersama di antara warga masyarakat melalui proses berbagi dan belajar bersama, untuk memperjelas dan memahami kondisi dan permasalahan mereka sendiri. Prinsip ini juga menuntut penghargaan pada setiap perbedaan yang melatarbelakangi warga saat terlibat dalam PAR, termasuk penghargaan pada kesetaraan jender (terlebih jika dalam suatu komunitas warga perempuan belum memperoleh kesempatan yang setara dengan laki-laki untuk berpartisipasi sosial). Berbeda dengan riset konvensional, tim peneliti dalam PAR bertindak sebagai fasilitator terjadinya proses riset yang partisipatif di antara warga, bukan tim peneliti yang meneliti kondisi komunitas dari luar sebagai pihak asing.

2. Orientasi Aksi. Prinsip ini menuntut seluruh kegiatan dalam PAR harus mengarahkan masyarakat warga untuk melakukan aksi-aksi transformatif yang mengubah kondisi sosial mereka agar menjadi semakin baik. Oleh karena itu, PAR harus memuat agenda aksi perubahan yang jelas, terjadwal, dan konkret.

3. Triangulasi. PAR harus dilakukan dengan menggunakan berbagai sudut pandang, metode, alat kerja yang berbeda untuk memahami situasi yang sama, agar pemahaman tim peneliti bersama warga terhadap situasi tersebut semakin lengkap dan sesuai dengan fakta. Setiap informasi yang diperoleh harus diperiksa ulang lintas kelompok warga/elemen masyarakat (crosscheck). Prinsip ini menuntut PAR mengandalkan data-data primer yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti bersama warga di lapangan. Sedangkan data-data sekunder (riset lain, kepustakaan, statistik formal) dimanfaatkan sebagai pembanding.

4. Luwes atau Fleksibel. Meskipun PAR dilakukan dengan perencanaan sangat matang dan pelaksanaan yang cermat atau hati-hati, peneliti bersama warga harus tetap bersikap luwes menghadapi perubahan situasi yang mendadak, agar mampu menyesuaikan rencana semula dengan perubahan tersebut. Bukan situasinya yang dipaksa sesuai dengan desain riset, melainkan desain riset yang menyesuaikan diri dengan perubahan situasi.

Sumber: https://www.bantuanhukum.or.id/web/participatory-action-research-par/