Asyik Gak Sih, Kerja di Startup? Ini Realita dan Soft Skill yang Harus Dipersiapkan

Kamu ingin bekerja di startup? Atau saat ini sedang membangun startup?

Dewasa ini, bekerja di perusahaan startup memang bisa dibilang sedang menjadi tren baru, terutama bagi generasi milenial. Sepertinya sangat menyenangkan bisa ngantor pakai kaos dan juga laptop-an duduk di beanbag. 

Well, bekerja di lingkungan startup memang identik dengan suasana kerja yang kasual, jam kerja yang lebih fleksibel, desain kantor yang fun, dan ruang meeting yang beralaskan karpet rumput sintetis. 

Namun, sebelum kamu berekspektasi lebih jauh, ada baiknya kita tahu beberapa fakta dan kemampuan yang harus dibutuhkan jika ingin bekerja di startup. Cek artikel berikut ini, ya.

Realita #1: kerja di startup punya banyak tantangan

Namanya saja startup atau ‘perusahaan rintisan’, tidak heran jika sistem kerjanya sedang dibangun dan belum stabil. Maka akan ada banyak tantangan dari segi pekerjaan yang harus bisa diatasi. Dengan tantangan pekerjaan, kamu juga sangat bisa memberikan masukan terkait ide-ide yang kamu miliki. Jadi, jangan ragu untuk berpendapat dan menuangkan ide karena kontribusi yang kamu berikan akan sangat berpengaruh pada kemajuan perusahaan. 

Realita #2: kerja di startup harus bisa beradaptasi dengan cepat

Startup ibarat remaja yang sedang dalam proses pertumbuhan menuju dewasa. Layaknya remaja yang tumbuh, tentu akan banyak mengalami perubahan dari segi fisik, mental, pola pikir, dan banyak hal lainnya. Begitu pula jika kamu sudah ada di lingkungan startup, perubahan sangat mungkin terjadi setiap saat karena daya saing yang tinggi. Misalnya, regulasi perusahaan yang berganti, terjadinya restrukturisasi dalam manajemen, atau bahkan job description yang mendadak mengalami perubahan. Memang pada awalnya akan terasa sulit karena perubahan ini. Namun jangan khawatir, jika kamu terus belajar, maka lambat laun perubahan yang terjadi justru bisa mengasah skill adaptasi serta meningkatkan kompetensi yang kamu miliki. 

Realita #3: dunia startup adalah kombinasi antara bekerja dan belajar banyak hal secara bersamaan

Fakta di atas memang terdengar klise. Namun, memang begitulah realita yang terjadi. Senang belajar banyak hal dan punya rasa keingintahuan yang tinggi bisa jadi nilai tambah untukmu yang ingin terjun ke dalam industri startup dan teknologi. Berusahalah untuk banyak belajar dari atasan, rekan tim, dan juga belajar secara mandiri. Tidak masalah untuk melakukan trial and error serta bereksperimen. 

Realita #4: lingkungan kerja yang inklusif dan horizontal

Perubahan yang kerap terjadi di startup menuntut tim untuk bisa mengambil keputusan dengan cepat. Efek dari hal ini adalah startup pada umumnya punya struktur organisasi yang tidak terlalu kompleks. Dengan ini, kamu bisa berinteraksi dan meminta masukan secara langsung kepada atasan. Manfaatkan juga kolaborasi yang bisa kamu bangun dengan tim lain dari lintas divisi. 

Jadi, apakah kamu sudah siap buat bergabung di startup?

Cara Mudah Adaptasi Seru di Lingkungan Baru

Tidak semua orang bisa langsung akrab saat melakukan adaptasi di lingkungan baru. Momen seperti lulus sekolah, masuk kuliah hari pertama, melakukan project di daerah baru, hingga saat traveling, membutuhkan beberapa perhatian khusus agar bisa beradaptasi.

Ibarat gelas kosong, kamu harus siap menampung segala hal saat ada di tempat baru. Entah itu perkenalan, kebiasaan baru, bahkan nama tempat dan jalan yang mungkin sama sekali belum pernah kamu susuri. 

Lalu, bagaimana cara agar adaptasi di lingkungan baru bisa menjadi sebuah kegiatan yang seru?

Kamu bisa mencoba cara-cara di bawah ini:

Cermat melihat sekeliling

Ini adalah poin pertama yang bisa kamu coba dengan mengamati sekelilingmu. Melakukan observasi bisa menjadi momen yang tidak terlupakan jika kamu tahu caranya berkenalan. Jangan lupa bahwa kesan pertama saat pertemuan itu penting, jadi bersikap sopan dan ramah tentu akan sangat membantu. Tips yang akan membantumu saat observasi adalah libatkan semua indera yang kamu miliki, mulai dari penglihatan dengan mengamati hal-hal baru di lingkungan, hingga indera pengecap dengan mencoba ragam kuliner khas daerah setempat. 

Saling menghargai

Rasa tidak nyaman yang muncul bisa menjadi pemicu untuk enggan mengenal lingkungan baru. Lalu, mengapa bisa timbul rasa tidak nyaman?

Ini karena tata cara, budaya, kebiasaan, hingga adat yang kamu pegang, bisa jadi sangat berbeda dengan tempat tinggalmu saat ini. Untuk itulah diperlukan sikap saling menghargai. Dengan ini, kamu bisa melatih empati serta menambah wawasan akan hal-hal unik yang sama sekali belum pernah kamu temukan di lingkunganmu yang terdahulu. 

Bertemu dengan masyarakat setempat

Setiap daerah pasti punya orang yang dipercaya untuk menjadi pemimpin. Salah satu cara agar kamu bisa diterima di suatu kelompok adalah dengan mengenalkan diri kepada pemimpin daerah setempat dan menciptakan kesan yang baik. Interaksi dengan masyarakat jadi hal yang penting dalam proses adaptasi. Jangan ragu dan hilangkan rasa malu untuk bergaul dengan mereka. Kamu juga dapat bertanya banyak hal, lho. Tips mudah untuk bisa semakin dekat dengan masyarakat adalah perbesar rasa keingintahuanmu untuk bisa mengenal daerah yang kamu tempati. Serta jangan lupa untuk selalu mematuhi adat istiadatnya, ya. 

Itu beberapa cara penting yang bisa kamu lakukan saat sedang beradaptasi di tempat baru. Semoga adaptasimu menyenangkan dan selamat mencoba, ya!

Menemukan “Ikigai”

Ikigai adalah kombinasi dari kata ikiru yang berarti “untuk hidup”, dan kai yang bermakna “realisasi harapan seseorang”. Jika disatukan, kedua kata itu membentuk konsep “alasan untuk hidup” atau “memiliki tujuan dalam hidup”.

Bagaimana caranya kita dapat menemukan Ikigai kita? Simak cerita mereka dalam video-video ini:

Membuat Presentasi yang Memenangkan Hati

Dalam memulai sebuah inisiatif, bisa itu sebuah bisnis atau proyek, diperlukan penggambaran yang jelas untuk visi dan hal-hal yang akan dilakukan untuk merealisasikan inisiatif tersebut.

Berikut adalah referensi bacaan untuk kamu dapat meningkatkan kemampuan dalam mengomunikasikan inisiatifmu:

Mengapa Membangun Branding Itu Penting?

Proses branding itu sendiri merupakan sebuah upaya untuk membentuk citra dan rasa keterikatan secara emosional antara pelanggan dengan merk produk serta perusahaannya dan juga upaya untuk membedakan diri dari pesaing. Upaya-upaya tersebut meliputi proses kreatif seperti pembuatan logo, penentuan slogan, mendefinisikan pesan yang hendak disampaikan, mengintegrasikan merk dengan kegiatan usaha, dan berbagai kegiatan kreatif lainnya yang bertujuan untuk membentuk persepsi pelanggan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap produk bermutu tinggi atau perusahaan yang bonafid selalu terkait dengan merk yang menarik, unik dan gampang untuk diingat. Dengan kata lain, kebanyakan bisnis-bisnis besar yang sukses berhasil menciptakan proses branding yang mampu menciptakan persepsi pada pelanggan untuk mengasosiasikan sebuah produk atau jasa tertentu terhadap sebuah merk.

Sumber: marketeers.com/mengapa-branding-penting-bagi-bisnis-anda/

Berikut adalah beberapa referensi bacaan untuk mempelajari tentang Branding lebih dalam:

Mengenal Participatory Action Research

PAR adalah kegiatan riset yang dilaksanakan secara partisipatif di antara masyarakat warga dalam suatu komunitas atau lingkup sosial yang lebih luas untuk mendorong terjadinya aksi-aksi transformatif (perubahan kondisi hidup yang lebih baik). Dengan demikian, sesuai istilahnya, PAR memiliki tiga pilar utama, yakni metodologi riset, dimensi aksi, dan dimensi partisipasi. Artinya, PAR dilaksanakan dengan mengacu metodologi riset tertentu, harus bertujuan untuk mendorong aksi transformatif, dan harus melibatkan sebanyak mungkin masyarakat warga atau anggota komunitas sebagai pelaksana PAR-nya sendiri.

Metodologi PAR sesungguhnya berasal dari kerangka metodologi riset-riset konvensional lain. Perbedaannya dari riset-riset konvensional adalah bahwa peneliti/praktisi PAR tidak memisahkan diri dari situasi masyarakat yang diteliti, melainkan melebur ke dalamnya dan bekerja bersama warga dalam melakukan PAR. PAR membahas kondisi masyarakat berdasarkan sistem makna yang berlaku di situ, bukan menurut disiplin ilmu tertentu di luar budaya masyarakat tersebut. PAR tak bisa lagi berposisi “bebas nilai” dan tidak memihak seperti yang dituntut ilmu pengetahuan sebagai syarat obyektivitas, melainkan harus memihak pada kelompok yang lemah, miskin, dirugikan, dan menjadi korban.

Selain itu, PAR tidak berhenti pada publikasi hasil riset (laporan) dan rekomendasi untuk riset berikutnya, melainkan berorientasi pada perubahan situasi, peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat warga untuk memahami dan mengubah situasi mereka menjadi lebih baik. Singkatnya, PAR sungguh-sungguh mengaktualisasikan kegiatan riset sebagai langkah mengambil bagian dalam proses penyadaran dan pemberdayaan masyarakat seperti yang diteladankan Paulo Freire dari Brasil sejak tahun 1960-an dan para pengikutnya yang terus berkembang dewasa ini.

Paradigma dan Pendekatan PAR

PAR lebih didasari paradigma fenomenologis, atau seringkali pula disebut paradigma interpretivisme, subyektifisme, atau definisi sosial. Paradigma ini didasari asumsi bahwa realitas sosial berlaku secara khas, subyektif dan kontekstual secara ruang dan waktu, sehingga peneliti perlu memahaminya dengan cara menginterpretasikan fenomena tersebut secara mendalam dalam konteksnya yang khas, tanpa perlu merisaukan representasinya atas fenomena lain yang sejenis, yang biasa dilakukan dengan analisis statistika sesuai paradigma fungsionalisme, obyektifisme atau fakta sosial (bdk. Sanapiah Faisal, “Filosofi dan Akar Tradisi Penelitian Kualitatif”, dalam Burhan Bungin, 2003:3-17.). Pendekatan ini dipilih karena situasi dan masalah yang diteliti bukan berujud sesuatu yang sangat terukur secara kuantitatif, melainkan situasi dan masalah yang masih sedang berkembang dan memiliki beragam aspek sosial.

Berdasar paradigma tersebut, pendekatan PAR sesungguhnya lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Namun, hal ini tidak menghalangi dimanfaatkan data-data yang bersifat kuantitatif dan metode-metode pengumpulan dan analisis data kuantitatif dalam PAR, dengan catatan kuantifikasi situasi sekadar sebagai alat bantu dan tidak boleh mereduksi fenomena sosial yang faktual terjadi dan dipahami melalui PAR itu sendiri.

Tujuan PAR

Setiap kegiatan PAR bertujuan :

  1. Untuk membangun kesadaran masyarakat atau memberdayakan masyarakat aras bawah melalui pendidikan kritis, pembelajaran orang dewasa, dialog public, dll
  2. Untuk merubah cara pandang tentang penelitian dengan menjadikan penelitian sebuah proses partisipasi
  3. Untuk menggeser padarigma: masyarakat sebagi Objek à Subjek penelitian
  4. Untuk membawa perubahan (transformation) nilai sosial di masyarakat

Prinsip-Prinsip PAR

1. Partisipasi. Prinsip ini mengharuskan PAR dilaksanakan separtisipatif mungkin, melibatkan siapa saja yang berkepentingan dengan situasi yang sedang diteliti dan perubahan kondisi yang lebih baik. Dengan prinsip ini, PAR dilakukan bersama di antara warga masyarakat melalui proses berbagi dan belajar bersama, untuk memperjelas dan memahami kondisi dan permasalahan mereka sendiri. Prinsip ini juga menuntut penghargaan pada setiap perbedaan yang melatarbelakangi warga saat terlibat dalam PAR, termasuk penghargaan pada kesetaraan jender (terlebih jika dalam suatu komunitas warga perempuan belum memperoleh kesempatan yang setara dengan laki-laki untuk berpartisipasi sosial). Berbeda dengan riset konvensional, tim peneliti dalam PAR bertindak sebagai fasilitator terjadinya proses riset yang partisipatif di antara warga, bukan tim peneliti yang meneliti kondisi komunitas dari luar sebagai pihak asing.

2. Orientasi Aksi. Prinsip ini menuntut seluruh kegiatan dalam PAR harus mengarahkan masyarakat warga untuk melakukan aksi-aksi transformatif yang mengubah kondisi sosial mereka agar menjadi semakin baik. Oleh karena itu, PAR harus memuat agenda aksi perubahan yang jelas, terjadwal, dan konkret.

3. Triangulasi. PAR harus dilakukan dengan menggunakan berbagai sudut pandang, metode, alat kerja yang berbeda untuk memahami situasi yang sama, agar pemahaman tim peneliti bersama warga terhadap situasi tersebut semakin lengkap dan sesuai dengan fakta. Setiap informasi yang diperoleh harus diperiksa ulang lintas kelompok warga/elemen masyarakat (crosscheck). Prinsip ini menuntut PAR mengandalkan data-data primer yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti bersama warga di lapangan. Sedangkan data-data sekunder (riset lain, kepustakaan, statistik formal) dimanfaatkan sebagai pembanding.

4. Luwes atau Fleksibel. Meskipun PAR dilakukan dengan perencanaan sangat matang dan pelaksanaan yang cermat atau hati-hati, peneliti bersama warga harus tetap bersikap luwes menghadapi perubahan situasi yang mendadak, agar mampu menyesuaikan rencana semula dengan perubahan tersebut. Bukan situasinya yang dipaksa sesuai dengan desain riset, melainkan desain riset yang menyesuaikan diri dengan perubahan situasi.

Sumber: https://www.bantuanhukum.or.id/web/participatory-action-research-par/

Mengenal Design Thinking

Design thinking adalah pendekatan untuk mencari masalah. Hal ini menuntut tingkat empati dan pemahaman yang tinggi terhadap pengguna akhir, dan proses berulang mengembangkan ide-ide baru, menantang asumsi, dan mendefinisikan kembali masalah, dengan tujuan mengidentifikasi solusi alternatif yang mungkin tidak selalu terlihat.

Mengapa Menggunakan Design Thinking?

Saat ini pendekatan design thinking lebih menjawab kebutuhan market, karena sebuah produk memerlukan iterasi dalam mencapai produk yang terbaik. Sedangkan user memerlukan kualitas produk yang lebih baik dan solusi yang sudah ada saat ini.

Design thinking merupakan upaya dari sebuah produk untuk memahami kebutuhan pengguna lebih mendalam, dan kemudian menciptakan sebuah ide yang dikumpulkan dari data-data serta masukan dari pengguna, kemudian mencoba untuk membuatkan prototipe untuk dilakukan pengujian kembali pada pengguna.

Dalam design thinking ada 5 tahap yang harus dilalui, yaitu:

  1. Empathize
  2. Define
  3. Ideate
  4. Prototype
  5. Test

Semua ini menjelaskan bahwa design thinking pada dasarnya mengedepankan human center approach yang mana proses berpikir berfokus pada manusianya sendiri.

1. Emphatize

Tahap pertama ialah untuk mendapatkan pemahaman empatik dari masalah yang ingin dipecahkan. Pada tahap ini dilakukan pendekatan terhadap customer kita. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan dan bertemu mereka untuk melakukan wawancara dan dapat juga bertindak seolah menjadi mereka. Agar permasalahan customer yang benar-benar ingin diselesaikan dapat berjalan dengan lancar.

2. Define

Informasi yang telah dikumpulkan selama tahap empathize, dianalisis dan disintesis untuk menentukan masalah inti yang akan diidentifikasi. Tahap define ini akan sangat membantu untuk menyelesaikan masalah customer karena telah dilakukan penetapan masalah.

3. Ideate

Tahap ini merupakan tahap untuk menghasilkan ide. Segala jenis ide akan ditampung guna penyelesaian masalah yang telah ditetapkan pada tahap define. Penting untuk mendapatkan ide sebanyak mungkin atau solusi masalah di awal fase ide. Untuk tahap akhir ialah penyelidikan dan pengujian ide-ide tadi untuk menemukan cara terbaik untuk memecahkan masalah atau menyediakan elemen yang diperlukan untuk menghindari masalah-masalah yang nantinya terjadi.

4. Prototype

Pada tahap ini akan dihasilkan sejumlah versi produk yang sederhana dan diperkecil, atau fitur khusus yang ditemukan dalam produk, sehingga dapat menyelidiki solusi masalah yang dihasilkan pada tahap sebelumnya. Prototype ini dapat diuji dalam tim sendiri atau ke beberapa orang lain. Ketika ada masukan makan dilakukan perbaikan lagi pada prototype ini, sehingga dihasilkan prototype yang benar-benar bagus.

5. Test

Dilakukannya pengujian dan evaluasi terhadap produk kepada masyarakat dan hasilnya akan dilakukan perubahan dan penyempurnaan solusi untuk menyingkirkan masalah dan mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang produk dan penggunanya.

Selain sebagai metode untuk merancang produk terbaik bagi pengguna, design thinking juga merupakan sebuah budaya perusahaan. Sehingga sebuah perusahaan bisa terus menerus melakukan improvement dari pengembangan produk serta inovasi. Improvement ini mengharuskan pimpinan perusahan untuk menjaga keberlanjutan dari proses design thinking.

Gimana Kita Bisa Majuin Daerah Lewat Internet? (Kok Bisa Channel Ft. Dayamaya)

Transcript:

Kalian lihat wilayah merah ini? Bayangin, hampir seperlima uang Indonesia ada di sini — atau lebih gilanya lagi — bayangin jumlah uang yang ada di sini itu bahkan lebih gede dari total uang di sini. Padahal luasnya itu cuma 0,03% dari total luas wilayah Indonesia alias ga nyampe satu persen! Ini fakta yang miris banget. Buat perbandingan — dengan keadaan sekarang — butuh waktu nyaris dua ratus tahun bagi Maluku Utara buat ekonominya bisa sampe kayak Jakarta. Ya! Kita mungkin sekarang lebih sibuk bandingin hidup kita sama orang lain di sosial media. Tapi kita akan kaget dan ngga percaya, seberapa banyak orang yang masih hidup di bawah sana. Permasalahannya cuma satu. Gimana caranya kita bisa nolong mereka? Gimana caranya biar titik merah ini ngga makin penuh dan bisa disebarluaskan juga?

Orang-orang sering berdebat gimana caranya majuin suatu wilayah. Tapi yang mungkin jarang orang sadar, sebenernya kalo diliat, kemajuan itu ada polanya. Polanya itu kayak gini.

Sebuah wilayah akan memulai perekonomiannya dengan yang paling dasar, yaitu pertanian. Di sini, masyarakat sibuk mengekstrak sumber daya alamnya untuk bertahan hidup. Semua negara, wilayah atau pun peradaban, mulai dari tahap ini.

Setelah suatu wilayah udah punya makanan yang cukup, tahap selanjutnya adalah membangun infrastruktur, biar kita bisa menuhin kebutuhan hidup yang lebih kompleks. Lewat jalanan dan pabrik yang dibangun, kita bisa produksi mobil, kertas, kosmetik, panci, dan yang lainnya buat hidup kita yang makin modern. 

Tapi ujungnya, kalau itu semua udah terpenuhi, kita perlu bangun SDM atau manusianya. Karena, di tahap ini, ekonomi kita akan berkembang ke sektor jasa, kayak munculnya Bank, Universitas atau Rumah Sakit. Di sini, butuh manusia-manusia berpendidikan tinggi yang punya kreativitas dan kepintaran.

Kalo masih ngga kebayang, coba aja kita pake contoh negara China. Sehabis perang, awalnya mereka itu miskin banget. Mereka mulai benahin pertanian mereka biar semua orang bisa makan. Sampe akhirnya mereka bangun infrastruktur negaranya. Jalanan dan pabrik pun mereka bangun. Dan coba lihat sekarang, kemegahan kota Shanghai, Hong Kong sampe Shenzhen yang orangnya udah pinter-pinter. Ngga cuma Beijing yang mereka bangun. Daaan yang menakjubkan adalah, itu semua dibangun bukan dalam waktu bukan ratusan, tapi cuma dalam beberapa puluh tahun aja.

Lalu gimana dengan Indonesia? Banyak daerah di Indonesia pun, lagi ada di tahap ini. Kita lagi proses ngebangun kota-kota lain di Indonesia. Kita lagi nyalain internet buat satu Indonesia. Kita lagi ngehubungin pulau-pulau biar terhubung jadi satu.

Dan, ngga cuma pemerintah, kita pun bisa ikut kontribusi ngebangun wilayah-wilayah ini biar makin ngebut ngelewatin fasenya. Salah satunya lewat program ini, yang mau support kalian-kalian yang mau ngebangun wilayahnya, dengan cara pake internet dan teknologi. Internet lah, yang bahkan mungkin bisa bikin kecepatan kemajuan kita lebih cepat daripada China. Karena, ibaratnya internet itu jadi senjata yang bikin kita bisa belajar atau bahkan cari kerjaan — tanpa harus jauh-jauh pergi ke kota. Dari balik layar gadget, kita bisa belajar caranya nanem bunga, budidaya ikan lele, atau bikin karya-karya lain yang hasilnya bisa dijual bahkan sampai ke seluruh dunia!

Pak Habibie bilang, mungkin kalian punya masa lalu, dan beliau juga punya masa lalu. Tapi masa depan adalah milik kita bersama. Kita bisa ribut sendiri ngebahas masalah negeri kita yang ngga ada habisnya. Atau kita, bisa kontribusi di masing-masing wilayah kita sekarang, buat demi kemajuan negeri ini. Dan seperti biasa, terima kasih.

Referensi:

Pentingnya Riset Pasar

Riset pasar biasa digunakan oleh calon pengusaha maupun pengusaha yang telah berjalan demi bisa mengetahui sejak awal apakah bisnis yang didirikan memang bisa menyelesaikan masalah yang dimiliki oleh banyak orang ataupun agar bisnisnya bisa lebih berkembang dengan cara mencari, mengumpulkan, dan menganalisis informasi tentang pasar yang sesuai dengan usaha yang mereka jalankan.

Manfaat Riset Pasar

  1. Memperoleh informasi tentang pasar yang dituju, mulai dari pesaing, kendala, hingga tingkat kebutuhan produk.
  2. Memahami karakter pelanggan agar dapat menyusun strategi yang lebih baik.
  3. Mengetahui feedback dari pasar terhadap produk
  4. Menganalisis efektivitas marketing-channel

Proses Riset Pasar

Kegiatan riset pasar dilakukan dengan sistematis yang harus memperhatikan beberapa langkah. Secara garis besar proses riset pasar adalah sebagai berikut:

  1. Perumusan masalah
  2. Penentuan tujuan riset pasar
  3. Pengumpulan data
  4. Analisis data
  5. Interpretasi hasil riset pasar

Jenis Riset Pasar

Terdapat dua jenis riset yang dapat dilakukan ketika hendak mengetahui informasi mengenai pasar.

Tujuan dari riset primer adalah mengumpulkan informasi untuk mengetahui kondisi pasar terkini secara langsung, itulah mengapa sumber dari riset primer merupakan target pasar atau target riset utama.

1) Riset Primer

Cara yang dilakukan untuk memperoleh data lewat riset primer:

  • Interview
  • Survey
  • Kuesioner
  • Focus Group Discussion

2) Riset Sekunder

Tujuan dari riset pasar sekunder adalah untuk menganalisis data yang telah tersedia yang kemudian menjadi pertimbangan sebuah strategi pemasaran yang jitu. Pada riset sekunder, data diperoleh dari laporan / publikasi / hal yang berkaitan yang telah diterbitkan secara umum.

Dengan melaksanakan riset pasar, kita dapat meminimalisasi risiko dalam membangun bisnis serta mengoptimalkan kesempatan yang bisa dicapai oleh bisnis atau produk kita.

Sumber: JurnalManajemen.com, Koinworks.com, Badr Startup Studio