Mengenal Participatory Action Research

PAR adalah kegiatan riset yang dilaksanakan secara partisipatif di antara masyarakat warga dalam suatu komunitas atau lingkup sosial yang lebih luas untuk mendorong terjadinya aksi-aksi transformatif (perubahan kondisi hidup yang lebih baik). Dengan demikian, sesuai istilahnya, PAR memiliki tiga pilar utama, yakni metodologi riset, dimensi aksi, dan dimensi partisipasi. Artinya, PAR dilaksanakan dengan mengacu metodologi riset tertentu, harus bertujuan untuk mendorong aksi transformatif, dan harus melibatkan sebanyak mungkin masyarakat warga atau anggota komunitas sebagai pelaksana PAR-nya sendiri.

Metodologi PAR sesungguhnya berasal dari kerangka metodologi riset-riset konvensional lain. Perbedaannya dari riset-riset konvensional adalah bahwa peneliti/praktisi PAR tidak memisahkan diri dari situasi masyarakat yang diteliti, melainkan melebur ke dalamnya dan bekerja bersama warga dalam melakukan PAR. PAR membahas kondisi masyarakat berdasarkan sistem makna yang berlaku di situ, bukan menurut disiplin ilmu tertentu di luar budaya masyarakat tersebut. PAR tak bisa lagi berposisi “bebas nilai” dan tidak memihak seperti yang dituntut ilmu pengetahuan sebagai syarat obyektivitas, melainkan harus memihak pada kelompok yang lemah, miskin, dirugikan, dan menjadi korban.

Selain itu, PAR tidak berhenti pada publikasi hasil riset (laporan) dan rekomendasi untuk riset berikutnya, melainkan berorientasi pada perubahan situasi, peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat warga untuk memahami dan mengubah situasi mereka menjadi lebih baik. Singkatnya, PAR sungguh-sungguh mengaktualisasikan kegiatan riset sebagai langkah mengambil bagian dalam proses penyadaran dan pemberdayaan masyarakat seperti yang diteladankan Paulo Freire dari Brasil sejak tahun 1960-an dan para pengikutnya yang terus berkembang dewasa ini.

Paradigma dan Pendekatan PAR

PAR lebih didasari paradigma fenomenologis, atau seringkali pula disebut paradigma interpretivisme, subyektifisme, atau definisi sosial. Paradigma ini didasari asumsi bahwa realitas sosial berlaku secara khas, subyektif dan kontekstual secara ruang dan waktu, sehingga peneliti perlu memahaminya dengan cara menginterpretasikan fenomena tersebut secara mendalam dalam konteksnya yang khas, tanpa perlu merisaukan representasinya atas fenomena lain yang sejenis, yang biasa dilakukan dengan analisis statistika sesuai paradigma fungsionalisme, obyektifisme atau fakta sosial (bdk. Sanapiah Faisal, “Filosofi dan Akar Tradisi Penelitian Kualitatif”, dalam Burhan Bungin, 2003:3-17.). Pendekatan ini dipilih karena situasi dan masalah yang diteliti bukan berujud sesuatu yang sangat terukur secara kuantitatif, melainkan situasi dan masalah yang masih sedang berkembang dan memiliki beragam aspek sosial.

Berdasar paradigma tersebut, pendekatan PAR sesungguhnya lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Namun, hal ini tidak menghalangi dimanfaatkan data-data yang bersifat kuantitatif dan metode-metode pengumpulan dan analisis data kuantitatif dalam PAR, dengan catatan kuantifikasi situasi sekadar sebagai alat bantu dan tidak boleh mereduksi fenomena sosial yang faktual terjadi dan dipahami melalui PAR itu sendiri.

Tujuan PAR

Setiap kegiatan PAR bertujuan :

  1. Untuk membangun kesadaran masyarakat atau memberdayakan masyarakat aras bawah melalui pendidikan kritis, pembelajaran orang dewasa, dialog public, dll
  2. Untuk merubah cara pandang tentang penelitian dengan menjadikan penelitian sebuah proses partisipasi
  3. Untuk menggeser padarigma: masyarakat sebagi Objek à Subjek penelitian
  4. Untuk membawa perubahan (transformation) nilai sosial di masyarakat

Prinsip-Prinsip PAR

1. Partisipasi. Prinsip ini mengharuskan PAR dilaksanakan separtisipatif mungkin, melibatkan siapa saja yang berkepentingan dengan situasi yang sedang diteliti dan perubahan kondisi yang lebih baik. Dengan prinsip ini, PAR dilakukan bersama di antara warga masyarakat melalui proses berbagi dan belajar bersama, untuk memperjelas dan memahami kondisi dan permasalahan mereka sendiri. Prinsip ini juga menuntut penghargaan pada setiap perbedaan yang melatarbelakangi warga saat terlibat dalam PAR, termasuk penghargaan pada kesetaraan jender (terlebih jika dalam suatu komunitas warga perempuan belum memperoleh kesempatan yang setara dengan laki-laki untuk berpartisipasi sosial). Berbeda dengan riset konvensional, tim peneliti dalam PAR bertindak sebagai fasilitator terjadinya proses riset yang partisipatif di antara warga, bukan tim peneliti yang meneliti kondisi komunitas dari luar sebagai pihak asing.

2. Orientasi Aksi. Prinsip ini menuntut seluruh kegiatan dalam PAR harus mengarahkan masyarakat warga untuk melakukan aksi-aksi transformatif yang mengubah kondisi sosial mereka agar menjadi semakin baik. Oleh karena itu, PAR harus memuat agenda aksi perubahan yang jelas, terjadwal, dan konkret.

3. Triangulasi. PAR harus dilakukan dengan menggunakan berbagai sudut pandang, metode, alat kerja yang berbeda untuk memahami situasi yang sama, agar pemahaman tim peneliti bersama warga terhadap situasi tersebut semakin lengkap dan sesuai dengan fakta. Setiap informasi yang diperoleh harus diperiksa ulang lintas kelompok warga/elemen masyarakat (crosscheck). Prinsip ini menuntut PAR mengandalkan data-data primer yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti bersama warga di lapangan. Sedangkan data-data sekunder (riset lain, kepustakaan, statistik formal) dimanfaatkan sebagai pembanding.

4. Luwes atau Fleksibel. Meskipun PAR dilakukan dengan perencanaan sangat matang dan pelaksanaan yang cermat atau hati-hati, peneliti bersama warga harus tetap bersikap luwes menghadapi perubahan situasi yang mendadak, agar mampu menyesuaikan rencana semula dengan perubahan tersebut. Bukan situasinya yang dipaksa sesuai dengan desain riset, melainkan desain riset yang menyesuaikan diri dengan perubahan situasi.

Sumber: https://www.bantuanhukum.or.id/web/participatory-action-research-par/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *